Share |

Apr 14, 2010

Tidung Island : Magical Heaven in Little Village part 1

Jika kamu menginginkan tempat yang jauh dari keramaian ibukota, tenang, segar, ramah, dan dikelilingi nuansa keindahan yang luar biasa, Pulau Tidung di Kepulauan Seribu adalah jawabannya. Dengan menempuh 3 jam perjalanan kapal dari Muara Angke, kita akan tiba di Little Village of Heaven ini. 


beautiful sea in Pulau Tidung

Pulau Tidung dengan keindahan pantai dan pemandangan bawah lautnya ini sebenarnya adalah suatu Kelurahan yang masih terbagi lagi ke dalam 6 pulau, yaitu : Pulau Tidung Besar, Pulau Tidung Kecil, Pulau Payung Besar, Pulau Payung Kecil, Pulau Laki, dan Pulau Karang Beras. Total luas dari semua pulau adalah 106 Ha, dan total jumlah penduduknya adalah 4258 jiwa. Hmm... sudah cukup banyak juga. Awalnya, aku berpikir kalau pulau ini masih sepi penduduk, tapi ternyata setelah kami datang kami telah disambut dengan keramahan penduduk lokal yang ternyata jumlahnya sudah cukup banyak. Anda mungkin berpikiran jika dalam pulau ini penduduknya agak primitif, tapi hal itu sangat tidak benar, karena rata-rata tiap rumah di sini memiliki televisi, dan semua anak di Pulau ini bersekolah. Yeah... di Pulau Tidung Besar di mana terdapat kantor kelurahan terdapat pula sekolah-sekolah, dari SD, SMP, hingga SMK. Lengkap juga dengan Puskesmas dan kantor Kepolisian.

 Pemandangan sunrise dari dekat Muara Angke saat kapal berlabuh


Singkatnya, aku dan keempat temanku (Riri, Sasha, Arif, dan Yodsa) pada hari Sabtu tanggal 10 April 2010 berangkat ke Pulau Tidung dengan tujuan OBSERVASI alias riset. Tapi, ada niatan sekalian jalan-jalan sih. Haha... Kami berangkat dari Muara Angke pukul  06.20 pagi. Sebagai informasi, keberangkatan ke Pulau Tidung dan pulau lain di kepulauan Seribu sekarang hanya bisa dari Muara Angke. (jalur dari Ancol sudah tidak ada lagi, kecuali untuk pejabat dan mencarter speedboat khusus dengan harga jutaan rupiah). Nah, untuk ke Pulau Tidung kapal yang menuju ke sana dari Muara Angke hanya beroperasi sekali saja, yaitu sekitar pukul 6.00. Jika dari Pulau Tidung-Muara Angke 2x sehari yaitu pada pukul 6.00 dan 13.00.(rute siang ini baru dibuka bulan April 2010 ini). Sebagai tips aja, kita harus sudah berada di Muara Angke pagi-pagi sebelum itu, karena berebut tempat di kapal. Kapalnya tidak terlalu besar dan satu hari hanya beroperasi maksimal 3 kapal. Jadi, kalau datangnya mepet, bisa-bisa tidak bisa naik ke kapal lagi karena kapal penuh (aku pun tidak menyangka jika banyak orang yang naik ke kapal jurusan Pulau Tidung, termasuk di atas kapal aku bertemu dengan seniorku satu jurusan yang kebetulan sudah lulus). Lucunya lagi, di atas kapal ada juga sepeda-sepeda dan motor yang ikut diangkut. Hehe, mungkin untuk diperjualbelikan di Pulau Tidung sana. Di tengah perjalanan di atas kapal, kami ditarik ongkos kapal sebesar Rp 33.000,- oleh kondektur kapal. Ya, lumayan lah, nggak mahal-mahal banget.


(dari kiri ke kanan : aku, Sasha, Riri, dan Arif di atas kapal)




Setelah kurang lebih 3 jam perjalanan, akhirnya kami tiba di pelabuhan Pulau Tidung pukul 9.40. Kami langsung disambut dengan beberapa anak pantai yang sedang berenang di laut tepi dermaga. Melihat kami datang, bocah-bocah yang kira-kira berusia 11 tahun ini terlihat "show off" dengan menyebur penuh gaya ke dalam laut. 




hampir sampai Pulau Tidung


Ternyata, setelah sampai di pelabuhan kecil itu, kok jadi banyak orang ya? Baik yang mendarat dari kapal, maupun penduduk asli yang pada "nongkrong" di dermaga, termasuk orang yang menyewakan sepeda, abang becak, dll. Sebagai informasi, salah satu atraksi yang menarik dari Pulau Tidung dibandingkan pulau-pulau lainnya di Kepulauan Seribu adalah adanya persewaan sepeda yang disewakan oleh penduduk untuk berkeliling pulau. Tarifnya biasanya sekitar Rp 15.000,- per hari (capek juga kalau harus berjalan kaki ke jembatan yang menghubungkan dengan Pulau Tidung kecil).


suasana saat mendarat di Pulau Tidung




Sebelum datang, kami telah memesan penginapan. Penginapan ini bernama Lima Saudara yang dimiliki oleh Pak Haji Abdul Hamid (biasa dipanggil Pak Mid). Tarifnya Rp 250.000,- per malam dan maksimal dapat ditempati hingga 6 orang. Pak Mid bilang, sesampainya di dermaga, untuk mencapai penginapan kami harus berjalan kaki dulu sekitar 300 meter ke arah barat atau kiri. Tapi, aku masih agak bingung, jadi aku bertanya pada penduduk setempat di dermaga. Bapak yang aku tanya pun memberi gambaran tentang arah menuju penginapan itu. Katanya agak jauh kalau berjalan kaki, sampai aku sempat kepikiran untuk naik becak. Tapi, teman-teman yang lain berkata untuk jalan kaki saja sekalian melihat-lihat kondisi sekitar. Dan ternyata memang tidak jauh (dasar si Bapak, mungkin biar becaknya laku kali ya, haha). Kondisi jalanan di Pulau Tidung sudah di konblok. Ya, sudah lumayan lah, dan ada beberapa sepeda dan motor berlalu lalang. Penduduk setempat juga cukup sering terlihat berada di depan rumah mereka, dan jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya cukup berdekatan. Sumpah, aku tidak menyangka kalau Pulau Tidung sudah seramai ini dan jauh dari image desa terpencil (suasana jalannya mengingatkanku pada suasana jalan di Kutek, di dalam UI, hoho).

jalan di Pulau Tidung


Kami juga sempat melihat adanya spanduk promosi yang menyewakan perlengkapan snorkelling, kapal dan lain-lain serta kami juga menjumpai kantor kelurahan sepanjang kami berjalan.








Setelah berjalan kaki dengan jarak lumayan, kami pun menjumpai sesosok lelaki tua yang mengenakan peci. Kami pun menduga bahwa dia adalah Pak Mid. Dan ternyata benar, dia langsung menyapa kami (tepatnya Arif, karena Arif lah yang selama ini ber contact dengan Pak Mid untuk memesan penginapan). Beliau langsung membawa kami menuju penginapannya.

BERSAMBUNG ke part 2





No comments:

Post a Comment

Any comment, please?