Share |

Jun 11, 2010

Tidung Island : Magical Heaven in Little Village part 3

Cerita di bagian final ini akan sangat panjang. Tapi jangan bosen-bosen buat bacanya ya... Haha.. Kalau kalian mau ke sana, cerita yang sangat lengkap ini akan jadi panduan buat kalian menjelajahi Pulau Tidung. Yeah...

Setelah sampai di Pulau Tidung Kecil, kami terus berjalan dan berjalan tanpa tahu akhirnya di mana. Sebenarnya tujuannya untuk mencari pantai sih. Tapi kok pantainya nggak nongol-nongol ya? Adanya semak-semak aja di sepanjang kanan dan kiri jalan setapak.


Tapi setelah kami bertemu dengan segerombolan remaja cowok yang kayaknya penghuni asli pulau dan bertanya pada mereka pantainya ada ato nggak dan masih jauh ato nggak, ternyata memang ada pantai dan masih agak jauh sih. Ya sudah, kami terus berjalan, sampai bertemu dengan segerombolan orang yang wisatawan juga, kemudian pantainya ketemu deh. Hehe... Pantai yang pertama kami kunjungi yaitu pantai di sebelah utara. Ternyata cukup ramai orang juga. Niatnya kan kami mau berenang, dan kami sudah membawa atau memakai dalaman pakaian renang, jadi kayaknya nggak enak kalau berenang ditonton banyak orang. Hohoho

Jadi kami berjalan lagi sampai menemukan pantai yang sepi dan tidak ada wisatawan lain di sana. Tapi sepanjang kami berjalan sampai tidak ada wisatawan lain, tapi yang ada malah sampah di sepanjang pantai yang meskipun tidak banyak, tapi cukup mengganggu. (Iya kan? Masa berenang sama sampah?)


Akhirnya kami dapat juga pantai sepi yang bebas sampah. Hanya ada kami di sana. Dan kami langsung kegirangan diikuti melucuti pakaian (karena pakai pakaian renang di dalam) terus berjalan ke arah laut. (Kecuali Riry, karena dia merasa kelelahan, jadi tidak ikut ke laut, melainkan menjaga tas kami aja). Tapi oh my... Ternyata banyak sekali karang-karang tajam di laut yang melukai kaki kami. Uh,sakit. Kami harus ekstra hati-hati melangkah untuk menghindari karang-karang tajam ini. Sampai akhirnya ke daerah yang hanya terdapat sedikit karang di bagian dasar. Daerah ini dalamnya hanya kira-kira seatas lutut orang dewasa. Hehe... Kami tidak berani untuk terlalu jauh melangkah karena takut akan ada laut pasang alias ombak, berhubung saat itu sudah sore. Tapi ya, kami sok-sok aja berenang (duduk dan tidur-tiduran di laut sih sebenarnya). Sampai akhirnya aku merasakan ada benda empuk-empuk aneh dan bergerak menyentuh tanganku. Aku pun langsung berteriak. Ketika melihat ke kanan aku melihat benda panjang berwarna coklat dengan diameter kira-kira 4 cm. Karena aku mengira ular laut, aku lebih berteriak lagi dengan volume lebih kencang. Yodsa, Sasha, dan Arif langsung ikutan panik, "Ada apa sih?" Kemudian mereka melihat ke sebelah kananku, dan kata Sasha, itu teripang atau landak laut gitu. Tetep aja aku masih merasa sangat histeris, karena mengingat sensasi empuk dan basah-basah di tanganku.


Pokoknya setelah merasa cukup puas, kami berjalan kembali ke arah pantai. Mengenakan pakaian lagi, dan berjalan lagi untuk melihat pantai di bagian selatan. Sebelum menemukan pantai, kami melewati perkebunan (atau hutan) mangrove, sebenarnya itu kayaknya tempat budidaya mangrove gitu. Lumayan membingungkan sih dengan keberadaan pohon-pohon mangrove itu untuk menemukan celah ke arah pantai. Tapi akhrinya dapet juga. Kami kira di sana hanya ada kami, tapi ternyata ada juga wisatawan lain yang sedang berfoto-foto ria. Tadinya kami kira pantainya bagus (kata Pak Nafi tadi gitu), tapi ternyata sama aja kayak pantai di sebelah utara. Tadinya kami mau berenang di pantai ini juga, tapi kami cuma bisa berjalan-jalan sebentar di laut dengan jarak ke pantai yang tidak jauh berhubung angin agak kencang dan prediksiku mengatakan bahwa akan segera datang air pasang yang disebabkan angin laut. Dan ternyata benar. Ya sudahlah, karena sudah mau maghrib juga dan langit sudah mau gelap, kami memutuskan untuk kembali ke jembatan saja. Mari kita kembali ke Jembatan Cinta. (bahasa Inggrisnya The Gate of Love, wkkwkkwk).

Sebelum sampai ke jembatan, alias masih di jalan setapak dengan kanan kiri semak-semak, kami melihat pemandangan yang sangat indah. Apa itu? Pantai lagi? Bukanlah. Melainkan, pelangi yang terlihat di antara langit merah yang menimbulkan gradasi warna sangat indah. Kami melanjutkan berjalan lagi ke arah jembatan. Dan bagus, langit sudah bertambah gelap lagi. Dan kami foto-foto kembali di sepanjang jembatan dengan latar pemandangan langit merah.



Setelah cukup puas berfoto ria, kami kembali berjalan menyusuri jembatan dan kembali ke tempat penitipan sepeda. Tapi melihat banyak orang berhenti di dekat tempat penitipan sepeda sambil makan siomay, aku pun tergoda. Jadi, sebelum mengambil sepeda, aku mengajak teman-teman untuk menyantap siomay dulu. Baru kemudian kami mengambil sepeda dan menaikinya lagi menuju tempat penginapan kami dengan keadaan pakaian agak basah ditemani langit yang semakin gelap saja.






Sebelum sampai ke penginapan, kami melewati warung makan tempat kami makan siang tadi, namanya Gelora kalo nggak salah. Kami berhenti sebentar untuk menanyakan apakah ikan bakar pesanan kami sudah jadi. Dan ternyata sudah jadi beserta lauk pauk lainnya. Mmm... Yummy! Kami pun meminta dinner dish ini untuk diantar ke penginapan Lima Saudara tempat kami menginap. Setelah makanan diantar dan kami membayar, kami belum langsung menyantapnya meskipun ikan bakar, udang goreng, tahu, tempe, oseng-oseng buncis, sambal kecap dan nasi itu terlihat sangat menggiurkan. (Murah lho, satu porsi komplit kayak gitu dengan ukuran ikan yang besar cuma Rp 15.000,-). Kenapa nggak langsung makan aja? Ya, kami kan mau sholat dan mandi dulu (mandinya antre gara-gara cuma ada 1 kamar mandi, dan aku mandi terakhir. Sial, gara2 aku mandinya paling lama). Jadi, gara2 itu aku mandinya nanti habis makan. Jadi aku deh yang pertama makan. Enak banget deh sumpah... Ikan bakarnya rasanya bener-bener fresh banget. Sambal kecapnya yahud. Pokoknya TOP banget.

Selesai mandi, aku harus interview dengan Pak Mid (pemilik penginapan lima saudara) dan Pak Sanwari (bagian Humas Kantor Kelurahan Pulau Tidung) untuk tugas Komunikasi Stratejik kelompokku. Hasilnya, kami berhasi interview dengan Pak Mid dan mendapatkan fakta kalau ternyata bisnis persewaan sepeda di Pulau Tidung itu pertama dirintis oleh Pak Mid, dan penginapan yang ia miliki juga merupakan jajaran penginapan pertama yang ada di Pulau Tidung. Kalau Pak Sanwari, setelah diantar oleh Pak Mid ke rumah beliau, ternyata orangnya tidak ada di tempat. Mungkin juga karena sudah malam. Dan sepertinya dia pergi untuk melihat pertunjukan lenong di lapangan desa. Malam itu keadaan desa terlihat lengang di sepanjang jalan, karena sangat banyak penduduk yang melihat pertunjukan lenong. (Kayaknya jarang ada hiburan rakyat di Pulau Tidung ini). Jadi, selepas mengembalikan sepeda, kami menonton pertunjukan lenong itu karena penasaran seperti apa. Anyway, sebelumnya aku sama sekali belum pernah melihat lenong secara langsung. (Pernahnya di TV).



Tanpa mengetahui di mana tempat lenongnya, kami terus berjalan mengikuti suara arah musik dan dialog super ramai itu berasal. Dan akhirnya kami sampai juga. Buset! Yang nonton lenong banyak banget, kayaknya ratusan gitu (sekitar 60% penduduk Pulau Tidung mungkin). Terdapat pula para penjual yang menjual makanan dengan gerobak sepeda dan juga beberapa tukang becak dan tukang ojek yang mangkal. Lenongnya cukup lucu dan menarik sih, tapi bagiku tetap kurang lucu. Ternyata setelah bertanya pada warga sekitar, lenong itu diadakan bukan event bulanan, melainkan acara itu diadakan apabila akan ada perusahaan yang akan membanggun suatu proyek di sana. Jadi cara untuk mendapatkan acceptance dari warga ialah dengan mengadakan suatu acara hiburan yang memang dibutuhkan oleh penduduk Pulau. Karena angin malamnya sangat dingin dan cuaca menandakan akan turun hujan, kami pun memutuskan untuk pulang ke penginapan. Besok pagi kami juga harus berkemas untuk pergi ke pulau-pulau kecil di dekat Pulau Tidung untuk snorkeling.

Paginya, sekitar pukul 8 setelah menyewa peralatan snorkeling (harganya Rp 35ribu) dan membelo oleh-oleh (ada dodol rumput laut, kripik sukun, dll yang dijual di tempat persewaan alat snorkeling di dekat gerbang dermaga Pulau Tidung), kami telah siap naik kapal yang kami sewa (harga kapal plus snorkeling guide Rp 400ribu, dan bisa dipakai hingga 8 orang). Untuk menyewa kapal silakan menghubungi Mas Afif. Kami nanti akan snorkeling di sekitar Pulau Payung, Pulau Ayer, dan Pulau Karang Beras. Naik kapal ukuran relatif kecil ini asik banget, karena hanya ada kami berlima ditemani dua orang guide yang sekaligus pengemudi kapal (Mas Afif dan satu bocah remaja cowok). Jadi serasa kapal ini kapal pribadi kami. Beruntung, kami jadi lebih punya privacy untuk mau ber snorkeling berapa lama dan kapan mau pindah tanpa persetujuan anggota rombongan lainnya (Ada kapal lain yang dinaiki sekitar 12 orang termasuk senior kuliahku dan kalo kayak gitu harus minta persetujuan anggota lain kalo mau pindah). Padahal di kapal lain tempat senior kuliahku, Si Tirza ini ada cowok ganteng dan keren banget yang bertelanjang dada super hot. Mukanya mirip2 cowok Chinese Thai yang ganteng, ya perpaduan Mike Lewis dan Daniel Henney lah. Kayaknya cowok ini emang bukan orang Indonesia. Sayang, baru lihat hari Minggu ini dan belum sempat kenalan. Hahahahhahhaha. Di atas kapal sebelum kami mencebur dan basah kami telah berfoto dulu dengan rompi pelampung, haha.



Rute pertama snorkeling kami adalah Pulau Payung. Sebelum kami semua mencoba bersnorkeling maupun menceburkan badan kami ke laut, terlebih dulu guide kami turun dulu ke laut (tanpa alat snorkeling apapaun) untuk memastikan apakah daerah itu aman untuk bersnorkeling atau tidak. Dan setelah Mas Afif berkata oke, baru kami berani mencebur. Yang pertama mencebur di antara kami adalah Sasha, dia sangat antusias dan tidak sabar. Begitu menceburkan badan ke laut (dengan perlengkapan snorkeling lengkap tentunya), aku merasa sangat takjub, kagum, dan gembira luar biasa (karena ini pertama kalinya aku snorkeling, begitu juga dengan teman-temanku yang lain). Teman-temanku juga terlihat sangat bahagia seakan hari itu adalah pengalaman liburan paling menyenangkan dalam hidup mereka. Kita bisa menyebut alam bawah laut itu sebagai surga dunia (karena sangat indah). Ikan-ikan dan terumbu karang yang berwarna-warni dan bergerak itu bahkan lebih indah dari yang biasa aku lihat di akuarium. Serius. (Aku kelihatan norak ya?) Tapi beneran, underwater view nya emang bagus banget. Bahkan aku melihat ada ubur-ubur kecil berwarna kuning (kalau lihat ubur-ubur jangan sampe kena ya... Nanti disengat). O ya, air laut itu rasanya beneran asin parah, jangan sampai airnya masuk ke alat snorkeling yang nempel mulut ya, nanti bisa panik kalau airnya ketelan. Lautnya yang dangkal bahkan bisa membuat kami berdiri di atas karang. Tapi teman-temanku agak aneh, mereka malah snorkeling di bagian yang terlalu dangkal. Awalnya aku belum tahu, tapi setelah merasakan tergesek karang dan agak lecet, aku jadi menghindari snorkeling di daerah super dangkal ini. Di antara temanku sepertinya ada yang lecet tergesek karang juga.

Berpindah ke rute pulau setelahnya, yaitu Pulau Ayer, pemandangannya lebih bagus, kita akan menemukan karang-karang raksasa yang indah  ketika kita snorkeling. Karangnya bentuknya sangat bervariasi dan perpaduan warnanya sangat unik. Di sini aku sempat mencoba menangkap ikan dengan jala bertangkai kayu milik guide kapal, tapi susah sekali. Karena aku memakai ban pelampung aku jadi tidak bisa berenang ke bawah menerobos karang-karang tempat ikan-ikan yang kukejar kabur dan bersembunyi. Bahkan guide kapal kami yang masih remaja mencoba menangkap ikan dengan berenang ke bawah tanpa alat snorkeling apapun (karena sudah jago berenang), tapi ia pun tidak berhasil mendapatkan ikan. Ya sudah lah. O ya, di pulau ini lebih banyak ubur-ubur meskipun semuanya berukuran ekstra kecil. Dan temanku, Sasha sempat tersengat di pahanya (jadi bentol-bentol merah kecil-kecil). Pengalaman besok kalau snorkeling harus pakai baju panjang dan legging panjang, intinya pakaian renang panjang dan menutupi kulit lah. Melihat waktu, kami memutuskan untuk naik ke atas kapal dan pindah ke pulau lain, yaitu Pulau Karang Beras. Tidak lupa kami telah berfoto ria di atas kapal maupun ketika kami sedang snorkeling.














Di Pulau Karang Beras, seperti biasa sebelum kami mencebur, guide kami mencebur ke laut dulu untuk memastikan keadaan. Kata asisten Mas Afif, "Ikannya besar-besar." Di bayanganku ikan besar itu ikan hiu, di bayangan Riry ikan besar itu ikan barracuda. Hahaha
Saking penasarannya, aku sangat antusias untuk mencebur. Dan benar, ikannya besar-besar dan semuanya ikan hias (tidak ada hiu maupun barracuda, he he). Pemandangannya sangat bagus. Kalau aku bilang, di sini paling bagus. Sayangnya, waktu kami ke Pulau Karang Beras sudah agak siang (sekitar jam 11) jadi ombaknya agak besar dan sempat gerimis juga. Jadi kami yang snorkeling terombang-ambing oleh ombak hingga sampai agak jauh dari kapal. Kekhawatiranku yaitu : ombak yang mengendalikanku akan membuatku menyenggol hewan-hewan laut berbahaya maupun menggesek karang yang akan menyebabkan lecet-lecet lebih lanjut. Mana di sini kakiku sempat kram lagi. Sial! Ombak besar, kaki kram. Makin khawatir aku akan sengatan dan gesekan itu. Melihat ada Riry di dekatku, aku pun meraih dan menggandeng tangannya. Aku bilang kalau aku kram, dan kami bersama-sama kembali ke kapal. O ya, ngomong-ngomong, dalam keadaan basah setelah snorkeling, untuk naik ke atas kapal terasa sangat berat. Dan sepertinya aku lebih memiliki masalah untuk naik ke atas kapal dibanding temanku yang lain (sampai harus ditarik tangannya dan dibantu oleh 2 orang guide). Yang lain biasanya dibantu satu orang saja sudah cukup. Padahal aku juga nggak gemuk, tapi kenapa ya? Setelah kami semua berada di atas kapal, kapal pun berangkat menuju tujuan terakhir yaitu Pulau Pramuka, letak ibukota kabupaten administratif Kep. Seribu. Di sana kami akan naik kapal yang kira-kira berangkat pukul 1.00 menuju Muara Angke (dengan kapal lebih besar dan kapasitas lebih banyak dibandingkan kapal Muara Angke-Pulau Tidung).

Kapal berangkat menuju Pulau Pramuka. Siang itu cuaca agak hujan alias gerimis, tapi kami berhasil tiba di Pulau Pramuka dengan selamat kira-kira pukul 12 kurang. Di sana kami sempat bertanya kepada orang setempat yang ada di dermaga mengenai kapan kapal menuju Muara Angke berangkat dan di sebelah mana. Kemudian ia mengatakan kalau kira-kira pukul 13.00 sambil ia menunjuk arah di mana kapal akan berangkat. Sampai di sana kami agak bingung ke mana kami akan pergi. Kemudian kami bertanya lagi kepada orang yang ada di dermaga tentang di mana ada kamar mandi untuk bilas dan di mana ada restoran atau warung makan. Setelah ia memberikan petunjuk, kami berjalan mengikuti arah tersebut. Ternyata... warung makannya rame banget, penuh orang, dan nggak ada meja yang kosong. Kami melihat kanan kiri warung itu, ada sih warung makan lain di dekatnya, tapi nggak banget, dan nggak ada tempat untuk bilas. Gyahhh...

Kami pun berjalan lagi nggak jelas (anyway, Pulau Pramuka itu kecil, jauh lebih kecil dari Pulau Tidung, mungkin cuma seukuran stadion). Dan kami menemukan ada Tourist Information Center, dan kebetulan ada Mas-mas yang nongkrong di depannya. Ya sudah, bertanyalah diriku padanya di mana ada letak warung makan. Kemudian ia menjawab, "Yuk, ke sana sama saya. Di sana ada warung nasi padang, nasi goreng, dll. Kebetulan saya juga mau beli makan." Ya udah, kami pun mengikuti dia, sambil bertanya tempat penangkaran penyu ada di mana. Ia pun menunjukkan suatu arah lagi, tapi kami mengejar waktu dengan waktu keberangkatan kapal, jadi kami pikir tidak akan sempat untuk pergi ke sana. Setelah menemukan warung makannya (yang kebetulan ada meja kosong), aku langsung meletakkan tas dan seluruh barang bawaan di atas meja) dilanjutkan dengan memesan makan. Warung makan ini adalah warung nasi padang dan lauknya lumayan enak juga. Harganya kira-kira Rp 10.000,- an lah kalo nggak salah. Di warung ini, aku menjumpai segerombolan anak muda yang berbicara dengan bahasa yang bukan bahasa Indonesia pada umumnya. Setelah kusimak dengan lumayan seksama, kusimpulkan bahwa itu adalah bahasa Melayu dan segerombolan anak muda itu adalah bukan orang Indonesia, kayaknya sih orang Malaysia dengan tipikal wajah Chinese, tapi beda dengan wajah suku Tionghoa di Indonesia.

Setelah makan, aku ke kamar mandi untuk berganti pakaian dan berbilas (dengan air saja, tanpa sabun). Kemudian beberapa dari temanku juga melakukan hal yang sama, tapi tidak tahu apa mereka juga bilas. Setelah kami semua selesai, kami berjalan keluar warung, dan di sana aku menjumpai seseorang cewek yang sepertinya aku kenal wajahnya. Cewek itu melambaikan tangan ke arahku. Setelah aku menghampirinya, dia bertanya, "Nia bukan ya?" Dan aku pun yakin kalau dia adalah Mei, teman lama jaman aku masih aktif debate yang sudah 4 tahun nggak ketemu. Dan kami dipertemukan di Pulau Pramuka ini. Duh duh duh... banyak banget ya yang libur weekend snorkeling di Kep. Seribu? Tapi ternyata Mei ini menginap di Pulau Pramuka, bukan Pulau Tidung dengan tarif rumah Rp 500.000,- yang katanya sudah ada AC nya dan bahkan ada mesin cucinya. Hahaha... Mei juga mau ke dermaga karena ia juga mau ke Muara Angke, ya sudah, kami berjalan bersama-sama ke sana. Ternyata sudah ramai saja di dermaga. Terlihat antrean manusia yang membeli tiket (di sini tiketnya dibeli dan dibayar diawal, berbeda dengan kapal dari Muara Angke ke Pulau Tidung yang dibayar di atas kapal tanpa tiket).



Dan di sana aku bertemu dengan teman lama lagi. Ada kakak kelas SMA yang sudah 5 tahun nggak ketemu. Namanya Mbak Chemist. Wah, surprise banget bisa ketemu dia di sini. Ternyata dia juga liburan weekend buat snorkeling di Kep. Seribu, dan dia menginap di Pulau Pramuka sepertinya. Setelah membeli tiket (yang harganya kalo nggak salah Rp 30.000,-) kami masuk ke dalam kapal. Kapal ini memang jauh lebih besar dari kapal yang kami naiki dari Muara Angke menuju Pulau Tidung, tapi tetap aja banyak banget penumpang di dalamnya (mungkin sekitar 100 orang lebih), dan kayaknya kami telat naik karena kapal udah penuh dan kami jadi dapat tempat duduk yang kurang strategis. Kami duduk di atas kapal yang nggak ada atapnya karena bagian atas yang beratap sudah habis ditempati penumpang lain. Jadi kami harus berpanas-panasan (untung nggak hujan). Lain kali jangan lupa ya, kalau mau naik kapal dari Pulau Pramuka ke Muara Angke harus masuk lebih awal. 


Dalam perjalanan kami menuju Muara Angke, banyak penumpang lain yang tidur di atas kapal. Dan kalau aku perhatikan, mereka adalah golongan menengah ke atas dan kebanyakan anak muda usia 22-30 tahun. Di dekat aku duduk ada seorang cowok botak yang masih muda dengan tampang mirip Jae Beom 2 PM. Tapi dia kurus banget, pake kacamata item, dan kalo ketawa giginya.. masya Allah, nggak rapi banget. (nggak penting untuk diceritain). Perjalanan yang kami tempuh kurang lebih sekitar 2 jam dan kami melewati beberapa pulau-pulau kecil di Kep. Seribu yang kayaknya menarik tapi nggak tau namanya apa. O ya, di atas kapal waktu udah hampir sampai akan ada petugas yang menagih tiket yang tadi kita beli. Jadi jangan sampai hilang ya. 



Muara Angke sudah kelihatan, dan sebelum sampai (di dekat Muara Angke) kami melihat ada beberapa orang yang memancing di laut, tapi anehnya, kok kakinya bisa sampai ke dasar laut sembari mereka duduk ya? Emangnya lautnya dangkal? Tapi kan bukan di pantai? Lautan yang dekat dengan daratan Jakarta sangat keruh, berbeda dengan lautan di sekitar Pulau Tidung yang super bening, biru atau hijau gradasi yang bersih. Jadi sorry sorry ya, pasti nggak akan ada orang yang mau snorkeling di lautan keruh ini. Hahaha... Bisa-bisa mati karena menelan air laut yang terkontaminasi timbal berbahaya.

Akhirnya setelah nganggur dan berpanas-panas di atas kapal, sampai juga kami di Pelabuhan Muara Angke, Jakarta. Kira-kira jam 3 sore-an lah waktu itu, dan aroma amis khas dermaga benar-benar menyesakkan pernapasan. Yeaahhhh... Kulitku benar-benar keling terbakar matahari selama belibur di Pulau Tidung, jadi jangan lupa bawa dan pakai sun block ya kalau ke sana, kalau bisa yang SPF 50 sekalian biar nggak keling. (aku dan teman-teman semua lupa bawa sun block)

Sampai jumpa Kep. Seribu. See you again next time in the next episode...


THE END

Apr 15, 2010

Tidung Island : Magical Heaven in Little Village part 2

Sesampainya di penginapan Lima Saudara, hal yang lucu adalah terdapat tulisan Ayu yang merupakan nama kecil Sasha, dan juga tulisan pemesan "Kang Arif". Hahaha. Ternyata Ayu ini adalah nama Wisma nya. Kirain...
Dan hal lucu lain adalah ternyata seniorku yang sudah lulus itu menginap persis di penginapan samping penginapan kami. Itu penginapan Lima Saudara milik Pak Mid juga. Jadi, dalam satu halaman terdapat empat rumah kecil milik Pak Mid.



Setelah melepas kepenatan dan menyusun plan akan ke mana saja kita plus berdiskusi dengan tetangga sebelah, kami melanjutkan perjalanan kami kembali. Tujuan pertama : ke Kantor Lurah. Buat apa? Untuk mencari data yang diperlukan untuk riset kami. Ahaha... Sayangnya Pak Lurah atau wakil lurahnya sedang istirahat, dan kata mas penjaga di sana beliau bisa dijumpai setelah Dzuhur. Jadi.... kami pergi untuk mencari sepeda. Termasuk ke tempat Bang Asep yang namanya sangat tenar di blog orang-orang yang berwisata ke Pulau Tidung sebelumnya. Dan ternyata... BINGO! Semua sepeda sudah dibooking atau dengan kata lain kami kehabisan sepeda. Sempat bingung juga, bagaimana caranya untuk nanti ke jembatan yang menghubungkan dengan Pulau Tidung kecil. Atau mau menyewa motor saja? Lebih mahal sih, Rp 50.000,- untuk satu hari. Ada juga becak dengan tarif ke jembatannya Rp 15.000,- , sama dengan tarif sewa sepeda seharian. Sedikit putus asa, kami memutuskan untuk tetap berjalan sambil mencari persewaan sepeda. Sebagai tips, jangan ikut-ikutan kami ya, yang baru mencari sepeda setelah sampai pulau agak lama. Seharusnya kita sudah mencari sepeda begitu turun dari kapal, atau booking dari awal sebelum datang ke Pulau Tidung. Hehehe... Cari aman lah.

Tapi untungnya... ketika sedang berjalan, aku melihat ada sekitar 2 sepeda diparkir di dekat dermaga dan di seberang rumah penduduk. Aku pun kemudian berinisiatif untuk bertanya pada penghuni rumah tersebut apakah sepeda tersebut disewakan atau tidak. Di halaman rumahnya pun terdapat beberapa sepeda diparkir. Sayangnya, sepeda tersebut tidak disewakan. Tapi kabar baiknya... ibu yang baik hati itu membantu kami untuk mencarikan sepeda di rumah-rumah lain. Dia bertanya kami butuh berapa sepeda. Kami pun menjawab kalau ada 5, ya bagus, kalau tidak 3 saja, jadi kami terpaksa berboncengan nanti.
Beberapa menit kemudian Ibu itu kembali dengan membawa 2 sepeda. Saking baiknya, dia bahkan menawarkan satu sepeda miliknya untuk disewakan. Kami tidak menyangka penduduk Pulau Tidung sebaik dan seramah ini. Jadi terharu...

Jadi, aku berboncengan dengan Yodsa, Sasha dengan Arif, dan Riri naik sepeda sendirian.




Setelah mendapat sepeda, kami kembali ke penginapan sebentar untuk sholat dzuhur, kemudian baru ke kantor Lurah untuk bertemu dengan Pak Mashud wakil Lurah untuk wawancara. Tentang apa? Pastinya tentang Pulau Tidung, hehe.


Setelah selesai kami menyempatkan diri untuk berfoto bersama dengan Pak Mashud.



Baru setelah selesai wawancara, kami bisa berjalan-jalan. Hehe... Dengan sepeda, kami mengelilingi pulau Tidung besar menuju jembatan penyeberangan ke Pulau Tidung kecil. Di jalan, kami menjumpai SMK, Puskesmas, dan Kantor Kepolisian.



Tiba-tiba... ada sesosok bapak dengan mengenakan kaos polisi memberhentiksan kami untuk mengajak istirahat dulu. Dia bilang, "Capek kan? Ayo istirahat, duduk-duduk dulu, sambil minum kelapa muda." Kami kira kelapa mudanya gratis, waktu dia tanya mau pesan berapa, kami bilang 3 aja. Tapi dia melanjutkan, 4 aja, biar pas Rp 20.000,-. Oh, ternyata bayar. Dia pun membelah kelapa muda itu dengan tenaganya sendiri. Dengan tangan? Pake pisau lah. Sambil menikmati kelapa muda, kami pun menyempatkan diri untuk berfoto dengan beliau.


Kelapa muda habis, bayar, lanjut lagi sepedaan. Kami mampir ke pantai dulu untuk melepas kelelahan, dan tentu saja berfoto ria.








Akhirnya kami menemukan tempat penitipan sepeda yang cukup ramai. Terdapat meja di mana karcis dibagikan dan nama penitip dicatat di dalam buku. Aku tulis saja nama Arif, hehe. Kemudian karcisnya aku berikan ke dia.

Jembatan Pulau Tidung berada di hadapan kami. Ketika berjalan menyusuri jembatan, kami melihat pemandangan yang sangatttt indah. Tentu saja kami berfoto ria di sini.















hati-hati ada beberapa bagian jembatan yang rusak





BERSAMBUNG KE PART 3 (FINAL)

Apr 14, 2010

Tidung Island : Magical Heaven in Little Village part 1

Jika kamu menginginkan tempat yang jauh dari keramaian ibukota, tenang, segar, ramah, dan dikelilingi nuansa keindahan yang luar biasa, Pulau Tidung di Kepulauan Seribu adalah jawabannya. Dengan menempuh 3 jam perjalanan kapal dari Muara Angke, kita akan tiba di Little Village of Heaven ini. 


beautiful sea in Pulau Tidung

Pulau Tidung dengan keindahan pantai dan pemandangan bawah lautnya ini sebenarnya adalah suatu Kelurahan yang masih terbagi lagi ke dalam 6 pulau, yaitu : Pulau Tidung Besar, Pulau Tidung Kecil, Pulau Payung Besar, Pulau Payung Kecil, Pulau Laki, dan Pulau Karang Beras. Total luas dari semua pulau adalah 106 Ha, dan total jumlah penduduknya adalah 4258 jiwa. Hmm... sudah cukup banyak juga. Awalnya, aku berpikir kalau pulau ini masih sepi penduduk, tapi ternyata setelah kami datang kami telah disambut dengan keramahan penduduk lokal yang ternyata jumlahnya sudah cukup banyak. Anda mungkin berpikiran jika dalam pulau ini penduduknya agak primitif, tapi hal itu sangat tidak benar, karena rata-rata tiap rumah di sini memiliki televisi, dan semua anak di Pulau ini bersekolah. Yeah... di Pulau Tidung Besar di mana terdapat kantor kelurahan terdapat pula sekolah-sekolah, dari SD, SMP, hingga SMK. Lengkap juga dengan Puskesmas dan kantor Kepolisian.

 Pemandangan sunrise dari dekat Muara Angke saat kapal berlabuh


Singkatnya, aku dan keempat temanku (Riri, Sasha, Arif, dan Yodsa) pada hari Sabtu tanggal 10 April 2010 berangkat ke Pulau Tidung dengan tujuan OBSERVASI alias riset. Tapi, ada niatan sekalian jalan-jalan sih. Haha... Kami berangkat dari Muara Angke pukul  06.20 pagi. Sebagai informasi, keberangkatan ke Pulau Tidung dan pulau lain di kepulauan Seribu sekarang hanya bisa dari Muara Angke. (jalur dari Ancol sudah tidak ada lagi, kecuali untuk pejabat dan mencarter speedboat khusus dengan harga jutaan rupiah). Nah, untuk ke Pulau Tidung kapal yang menuju ke sana dari Muara Angke hanya beroperasi sekali saja, yaitu sekitar pukul 6.00. Jika dari Pulau Tidung-Muara Angke 2x sehari yaitu pada pukul 6.00 dan 13.00.(rute siang ini baru dibuka bulan April 2010 ini). Sebagai tips aja, kita harus sudah berada di Muara Angke pagi-pagi sebelum itu, karena berebut tempat di kapal. Kapalnya tidak terlalu besar dan satu hari hanya beroperasi maksimal 3 kapal. Jadi, kalau datangnya mepet, bisa-bisa tidak bisa naik ke kapal lagi karena kapal penuh (aku pun tidak menyangka jika banyak orang yang naik ke kapal jurusan Pulau Tidung, termasuk di atas kapal aku bertemu dengan seniorku satu jurusan yang kebetulan sudah lulus). Lucunya lagi, di atas kapal ada juga sepeda-sepeda dan motor yang ikut diangkut. Hehe, mungkin untuk diperjualbelikan di Pulau Tidung sana. Di tengah perjalanan di atas kapal, kami ditarik ongkos kapal sebesar Rp 33.000,- oleh kondektur kapal. Ya, lumayan lah, nggak mahal-mahal banget.


(dari kiri ke kanan : aku, Sasha, Riri, dan Arif di atas kapal)




Setelah kurang lebih 3 jam perjalanan, akhirnya kami tiba di pelabuhan Pulau Tidung pukul 9.40. Kami langsung disambut dengan beberapa anak pantai yang sedang berenang di laut tepi dermaga. Melihat kami datang, bocah-bocah yang kira-kira berusia 11 tahun ini terlihat "show off" dengan menyebur penuh gaya ke dalam laut. 




hampir sampai Pulau Tidung


Ternyata, setelah sampai di pelabuhan kecil itu, kok jadi banyak orang ya? Baik yang mendarat dari kapal, maupun penduduk asli yang pada "nongkrong" di dermaga, termasuk orang yang menyewakan sepeda, abang becak, dll. Sebagai informasi, salah satu atraksi yang menarik dari Pulau Tidung dibandingkan pulau-pulau lainnya di Kepulauan Seribu adalah adanya persewaan sepeda yang disewakan oleh penduduk untuk berkeliling pulau. Tarifnya biasanya sekitar Rp 15.000,- per hari (capek juga kalau harus berjalan kaki ke jembatan yang menghubungkan dengan Pulau Tidung kecil).


suasana saat mendarat di Pulau Tidung




Sebelum datang, kami telah memesan penginapan. Penginapan ini bernama Lima Saudara yang dimiliki oleh Pak Haji Abdul Hamid (biasa dipanggil Pak Mid). Tarifnya Rp 250.000,- per malam dan maksimal dapat ditempati hingga 6 orang. Pak Mid bilang, sesampainya di dermaga, untuk mencapai penginapan kami harus berjalan kaki dulu sekitar 300 meter ke arah barat atau kiri. Tapi, aku masih agak bingung, jadi aku bertanya pada penduduk setempat di dermaga. Bapak yang aku tanya pun memberi gambaran tentang arah menuju penginapan itu. Katanya agak jauh kalau berjalan kaki, sampai aku sempat kepikiran untuk naik becak. Tapi, teman-teman yang lain berkata untuk jalan kaki saja sekalian melihat-lihat kondisi sekitar. Dan ternyata memang tidak jauh (dasar si Bapak, mungkin biar becaknya laku kali ya, haha). Kondisi jalanan di Pulau Tidung sudah di konblok. Ya, sudah lumayan lah, dan ada beberapa sepeda dan motor berlalu lalang. Penduduk setempat juga cukup sering terlihat berada di depan rumah mereka, dan jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya cukup berdekatan. Sumpah, aku tidak menyangka kalau Pulau Tidung sudah seramai ini dan jauh dari image desa terpencil (suasana jalannya mengingatkanku pada suasana jalan di Kutek, di dalam UI, hoho).

jalan di Pulau Tidung


Kami juga sempat melihat adanya spanduk promosi yang menyewakan perlengkapan snorkelling, kapal dan lain-lain serta kami juga menjumpai kantor kelurahan sepanjang kami berjalan.








Setelah berjalan kaki dengan jarak lumayan, kami pun menjumpai sesosok lelaki tua yang mengenakan peci. Kami pun menduga bahwa dia adalah Pak Mid. Dan ternyata benar, dia langsung menyapa kami (tepatnya Arif, karena Arif lah yang selama ini ber contact dengan Pak Mid untuk memesan penginapan). Beliau langsung membawa kami menuju penginapannya.

BERSAMBUNG ke part 2





Apr 12, 2010

First Shot, First Shock


Senangnya...
Bercampur kaget, bercampur tak percaya
Berakhir ketagihan dan kemantaban berkarya

1 April 2010, adalah hari pengumuman pemenang Creadtive Award, kompetisi iklan mahasiswa se-Pulau Jawa yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, kampusku sendiri, hehe (tapi aku bukan panitia dan pengurus di Himpunan, lho).

Kita flash back dulu, jadi tahun ini seperti biasa diadakan Pekan Komunikasi dan kompetisi iklan menjadi salah satu bagiannya. Yang luar biasa adalah tahun ini entry tim / peserta yang masuk lebih dari 130 (hanya untuk peserta, bukan karya, karena satu tim peserta bisa mengirim 2,3 karya, atau bahkan lebih). Jumlah ini hampir menyamai entry kompetisi iklan Caraka tahun lalu (kompetisi iklan yang diadakan PPPI Jawa Tengah dengan skala dan reputasi yang lebih besar). Tema lomba untuk babak penyisihan adalah “Lebih Vokal dengan Produk Lokal”. Peserta dapat mengirimkan karya berupa print ad, ambience media, maupun radio. Di antara lebih dari 130 tim tersebut, alhamdulillah, timku yang terdiri dari aku sendiri dan partnerku, Fika berhasil masuk ke dalam finalis (6 besar) karena iklan radio yang kami buat. Jadi enam finalis tersebut terdiri dari 3 iklan ambience, 2 iklan radio, dan hanya 1 print ad (padahal entry print ad paling banyak). Masing-masing finalis berasal dari Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Diponegoro, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Universitas Sebelas Maret Solo, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Indonesia.

 script radio Indalove, tim saya dan Fika


Kami, enam finalis, telah dikarantina selama 4 hari, dari tanggal 29 Maret. Dan kami harus menginap di penginapan yang disediakan panitia untuk memudahkan koordinasi antara panitia dengan peserta (penginapan ada di komplek Departemen Peternakan, di dekat RS hewan juga). Sebenarnya tidak wajib sih, terutama untuk kami yang anak UI dengan domisili Depok yang sangat dekat dengan kampus tempat acara diselenggarakan, tapi berhubung lebih baiknya kita berinteraksi dan mengenal finalis lainnya, maka kami memutuskan untuk menginap di penginapan tersebut. Padahal, aku dan Fika masih memiliki tugas kuliah yang belum diselesaikan dan berpacu dengan deadline pengumpulan tugas (terutama Fika yang belum mengerjakan tugas take home UTS copywriting). Singkatnya, penginapan ini disiapkan panitia sebagai akomodasi mereka yang datang dari luar Jakarta.

 suasana di penginapan


Namun, dengan menginap di wisma itu, meskipun kasurnya sangat tidak nyaman, kamar panas, kamar mandi agak kotor, dan listrik yang sering mati, kami senang dapat berkenalan dengan finalis lain yang datang dari berbagai daerah dengan berbagai karakter yang pada dasarnya semua kocak dan nyentrik (maklum, beginilah karakter anak-anak kreatif, hehe). Keseluruhan finalis ada 12 orang dari 6 tim, tapi jumlah finalis wanitanya cuma 3! Karena 9 lainnya laki-laki. Sebenarnya, aku dan Fika sudah sangat minder dengan kenyataan di lapangan seperti ini, karena biasanya laki-laki berpikir lebih gila yang artinya lebih kreatif. Lagipula di antara 6 finalis tersebut hanya aku dan Fika yang sama sekali belum memiliki pengalaman sama sekali dalam kompetisi iklan, alias belum pernah ikut lomba iklan sebelumnya. (ya, kami kan anak 2008, baru dapat kuliah copywriting semester ini). Sementara finalis lainnya, minimal dalam satu tim sudah ada yang pernah ikut kompetisi iklan, bahkan menjadi finalis di Citra Pariwara! Gimana aku sama Fika nggak minder? 

Selama karantina, kami mendapatkan seminar, workshop special dari Ayah Djito Kasilo yang sumpah, keren banget! Aku belum pernah dapat materi begitu dari kuliah, dan aku merasa sangat beruntung bisa mendapat materi di mana teman-teman kuliahku yang lain tidak mendapatkannya (selain Fika, partnerku, dan Bella, yang jadi panitia dan berjaga di ruang workshop). Aku juga sangat senang jadi bisa berkenalan dengan Ayah, yang merupakan tokoh di dunia periklanan Indonesia, yang pastinya sangat berpengalaman dan dihormati.

 workshop bersama Ayah Djito Kasilo



Yang pasti, kami mendapatkan final brief, yaitu tugas untuk final yang artinya kami harus membuat iklan lagi! Dengan format lebih lengkap dan lebih komplit, karena program yang harus dieksekusi di final brief ini berformat IMC alias Integrated Marketing Communication. Tadinya, aku dan Fika mengira tidak ada tugas lagi di final, tinggal menunggu diskusi dari para juri tentang siapa yang menjadi pemenang di antara 6 tim berdasarkan karya yang telah dibuat pada tahap penyisihan. Ternyata…. Oh, tidak…. 

Final brief ini didapatkan dari Kementerian Perhubungan dengan objective ‘Menyadarkan masyarakat akan pentingnya menggunakan peralatan keselamatan selama berkendara di jalur darat’. Dan kami benar-benar bingung setengah mati harus membuat apa. Brief yang diberikan tanggal 30 Maret siang ini harus sudah jadi dalam bentuk powerpoint dan dikumpulkan ke panitia tanggal 31 Maret pukul 18.00 WIB, dan kami baru mendapat idenya yang bener-bener ide tanggal 31 Maret juga, siang hari sekitar pukul 12.30. Ini baru ide, belum eksekusi yang diharuskan membuat media promosinya. Aku dan Fika benar-benar stress tak terkira, panik, dan tetap ada rasa jiper alias minder dengan anggapan tim lain akan membuat program yang luar biasa bagus.

 foto di Gang Sawo bareng finalis


Setelah tugas final kami kumpulkan, kami masih harus menunggu pengumuman keesokan harinya pada saat Comm Weekend di mana terdapat Awarding Night. Setelah tugas final ini selesai, aku dan Fika bisa sedikit lega, meskipun banyak rasa tidak puas, karena presentasi kami di depan juri benar-benar tidak detail karena keterbatasan waktu bercampur nervous luar biasa. Hari Kamis, tanggal 1, kami bisa masuk ke kelas Copywriting untuk mengumpulkan UTS sekaligus kemudian kuliah. Setelah itu, kami kembali lagi ke penginapan untuk mengambil barang yang tertinggal, sekaligus menjemput finalis lainnya untuk ke UI. Kembali ke UI, sambil menunggu Comm Weekend aku dan peserta lainnya, bisa sarapan dan makan siang bersama, kemudian jalan-jalan di sekitar kampus, yaitu ke Gang Sawo untuk membeli souvenir UI (dengan ditemani seorang panitia bernama Eel alias Melly), kemudian ke Jembatan Teksas (meskipun matahari luar biasa teriknya). Haha… mereka semua bener-bener lucu alias sedikit freak. Selalu saja ada hal yang membuatku tertawa. Kami beberapa kali foto bersama.



Tinggal menunggu waktu Awarding Night yang kira-kira jam 7 PM, aku dan Fika kembali ke kost yang tinggal berjalan kaki dari kampus untuk beristrahat dan mandi sore (hehe, kebetulan aku dan partnerku ini tinggal satu kost). Sebelum ke kampus, bahkan kami sempat ke warnet untuk mengirimkan tugas Pemasaran Interaktif yang setiap minggu selalu ada. Tiba-tiba, saat berada di warnet, salah seorang panitia yang bernama Sabrina, menelponku dan memaksa untuk segera berlari ke kampus ke acara Comm Weekend (tentunya karena Awarding Night segera dimulai). Kami pun langsung beranjak dari kursi, dan berjalan cepat ke FISIP. Dalam hati, aku menerka-nerka, “Memangnya semua finalis harus datang ke Awarding Night meski tidak dapat juara? Atau aku dan Fika dapet ya?” Bodo lah. Yang penting, kami datang dulu ke venue. 


the bronze Gals


Dan tidak lama kemudian setelah kami datang, (sekitar 3 menit), para pemenang Creadtive pun diumumkan dari juara 3. Sang MC yang terdiri dari teman kami sendiri, Frangky dan Garti, kemudian menyebutkan nama Universitas Indonesia. Hah? Nggak salah nich? Tim kami, Indalove berhasil menjadi juara 3. Buset, aku dan Fika sangat kaget bercampur senang karena ini adalah pengalaman pertama kami. Kami pun maju ke depan panggung untuk diberikan hadiah yang terdiri dari piala, uang Rp 1 juta (yang baru besoknya ditransfer), sertifikat, topi pemenang, dan beberapa souvenir dari sponsor. Kami masih shock, dan kami diminta mengucapkan sepatah 2 patah kata, dengan kondisi kami saat itu yang masih kaget. Fika, yang lebih shock berkata “Jangan gw, please”. Ya sudah, aku membuka pidato singkat dengan mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang mendukung ditambah curhatan tentang perasaanku saat itu yang kaget karena ini adalah kompetisi pertama kami, baru kemudian Fika menambahkan. Aku benar-benar senang, karena banyak teman-temanku yang datang di acara itu untuk menyaksikan kami sekaligus memberikan dukungan dan ucapan selamat (semoga kemenangan itu bukanlah kejutan April Mop, haha).

 the silver team

 the winner


Setelah Ayah pulang, kami para finalis kembali untuk menyaksikan performance keren yaitu dari The Remedy dan juga The Trees and The Wild. Hehe, vokalis The Trees and The Wild yang namanya Remedy bener-bener ganteng, bersuara merdu, keren, dengan aura bintang yang kuat. Backing vocalnya juga cantik, sampai beberapa finalis cowok naksir (terutama si Leo dan Aim, ck ck).

 The Trees and The Wild, with the goodlooking vocalist


Well, it was amazing night, then we head back to the lodge. Keesokan paginya, tanggal 2 April, semua finalis pulang ke daerah masing-masing. Hikz… I miss them, cause they are so funny and we had share great moments together. Hmm… wonderful moments with wonderful people. Hope to meet them again in the next competition. ^^ Amien.