Share |

Jun 7, 2009

World’s largest cave discovered in Quang Binh, Vietnam


In mid- April 2009, British caving team leading by Howard Limbirt have explored Son Doong Cave in the Phong Nha - Ke Bang World Natural Heritage site, 50km from Dong Hoi, Quang Binh.
At 150m hight, 140m wide, and over 5km long, the cave is believed to be the world's largest cave, almost twice the size of the current record holder.

Discovered by local people in 2008 but the cave had not been entered due to the terrifying wind and noise from the large underground river..

Son Doong Cave located in center of national park, about 6 hours' walk from Ho Chi Minh trail after pass Doong Hamlet, En Cave. The team spent five days exploring the cave. They had to negotiate two underground rivers before reaching the main passage.
source : TITC
taken from : www.vietnamtourism.com

I wonder to visit that huge cave one day, ehmmmm..... I really want for the natural attraction vacation. And I'd like to go abroad, at least still in the South East Asia (except that very close but always in confrontation country)

Jun 2, 2009

May 31, 2009

Suplemen Kesehatan, Masihkah Diperlukan?

Seiring berjalannya waktu, jumlah penduduk yang tinggal di perkotaan besar semakin bertambah. Hal itu disebabkan baik karena adanya urbanisasi dan migrasi penduduk lainnya, maupun pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia, dan Jakarta adalah salah satu contohnya. Sebagai kota metropolitan di mana terdapat 9 juta penduduk di mana, kemacetan dan polusi udara bukanlah merupakan suatu hal baru yang dirasakan penduduk di dalam kota ini. Dua hal tersebut merupakan faktor utama penyebab terjadinya stress, terutama bagi orang-orang yang sibuk bekerja di kantor. Belum lagi ditambah dengan adanya kesibukan di kantor yang membuat waktu istirahat serta olahraga menjadi semakin minim. Bahkan terkadang kesibukan tersebut mengganggu pola makan ataupun menimbulkan kebiasaan untuk mengkonsumsi makanan cepat saji yang dirasa kurang sehat dan tidak memenuhi standar gizi yang semestinya dikonsumsi tubuh manusia setiap harinya. Jika sudah seperti itu, kesehatan dan daya tahan tubuh menjadi terganggu, sehingga rentan terhadap penyakit.

Bahkan akibat adanya stress, pola hidup yang serba cepat dan tidak sehat, serta kurangnya istirahat dan olahraga dapat berakibat mengurangi usia harapan hidup seseorang. Sepertinya dapat kita bandingkan, bahwa usia harapan hidup penduduk yang tinggal di pedesaan di Indonesia lebih tinggi dibandingkan mereka yang tinggal di perkotaan. Sebuah penelitian mengatakan bahwa Sleman, suatu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta adalah daerah di mana usia harapan hidupnya paling tinggi di Indonesia. Perlu diketahui bahwa Sleman adalah suatu daerah di mana terdapat banyak pedesaan dan dapat kita simpulkan bahwa pedesaan merupakan daerah yang tenang dan ideal untuk menghabiskan hari tua di mana orang-orang jauh dari stress dan tentunya dengan pola hidup yang lebih sehat dan teratur. Bahkan terkadang mereka memetik buah-buahan dari kebun mereka sendiri.

Oleh karena itu, untuk menjaga stamina dan daya tahan tubuh, meningkatkan kesehatan, asupan vitamin dan mineral harian yang juga berfungsi sebagai body defense dan detoksifikasi, bahkan untuk mengganti sel-sel yang rusak yang kemungkinan disebabkan oleh banyaknya terpaan polusi udara yang tidak sengaja diterima oleh tubuh, suplemen kesehatan dalam era modern yang serba cepat ini sangatlah diperlukan, terutama untuk mereka yang tinggal di daerah perkotaan yang mungkin agak sulit untuk menemukan makanan hijau dan buah-buahan segar tanpa adanya kontaminasi pestisida. Kalaupun makanan seperti itu dapat ditemukan, mereka yang serba sibuk ini hampir tidak memiliki waktu untuk mengkonsumsinya. Untuk itu, suplemen kesehatan dapatlah menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan harian vitamin dan mineral bagi manusia, maupun sekedar untuk menjaga stamina tubuh, karena kita dapat membuat suatu asumsi bahwa mereka dengan jadwal kerja yang padat yang dekat dengan kemungkinan stress akan lebih lelah sehingga lebih rentan terhadap penyakit dibanding mereka yang memiliki lebih banyak waktu istirahat. Jadi, tunggu apa lagi, jangan lagi ragu untuk mengkonsumsi suplemen kesehatan, karena hal ini memang perlu, dan jangan lupa untuk mengecek tanggal kadaluwarsanya serta apakah suplemen kesehatan ini telah terdaftar di badan POM. Lihatlah kandungan suplemen tersebut, dan sesuaikan dengan kebutuhan harian kita. Salam sehat!

May 30, 2009

My New Friend, Neighbour, Whatever...

N.B. fotografernya kagak jago, jadi waktu Norah merem kena jepret


Okay, mari sekarang saya bercerita dengan bahasa Indonesia lagi. Wow, mendadak saya jadi lupa bagaimana cara berbicara dan menulis dengan bahasa Inggris. Tidak juga sih, tapi meskipun sebenarnya tidak bisa disalahkan juga, tapi bukan itu alasan saya sekarang menulis dengan bahasa Indonesia. Well, jadi, kata salah satu pembicara pada Journalist Days di FE UI beberapa minggu yang lalu, menulis di blog dengan bahasa Indonesia itu penting untuk perkembangan Citizen Journalism di Indonesia. Hmm… setelah saya pikir-pikir, ada benarnya juga. Jadi, mari berbahasa Indonesia! (for foreign readers, don’t worry, later I will write in English again :p).

Jadi, seminggu yang lalu, hari Kamis, tanggal 21 Mei tepatnya, saya mendengar ada suara percakapan dengan bahasa Mandarin yang terdengar dari kamar saya. Saya kemudian berbicara sekaligus berpikir dalam hati, mereka orang Chinese-Indonesia atau Chinese asli? Dan ternyata, mereka orang Chinese asli! Satu di antara mereka sudah cukup lama tinggal di Indonesia, jadi bahasa Indonesia nya dapat dikatakan lumayan lancar lah. Nah, yang satunya lagi, baru “fresh” datang dari Cina, jadi tidak bisa berbicara dengan bahasa Indonesia (sama sekali, waktu itu dia hanya bisa menghitung angka 1 sampai 10). Dan untungnya…. dia lancar berbahasa Inggris. Ngomong-ngomong, yang baru fresh datang dari Cina itu singkat kata nge-kost di samping kamar saya, persis. Ya, dia, hanya dia, tidak dengan temannya. Sebenarnya saya lebih dulu kenal dengan seorang Chinese yang bisa bahasa Indonesia itu, Rini, begitulah nama yang ia perkenalkan pada saya (aneh, kok namanya Indonesia?), tapi kemudian Rini memperkenalkan saya pada temannya, yang bernama Norah, yang tinggal di samping kamar saya itu. Norah anaknya cantik, terlihat ramah, usianya saya prediksikan saat itu sekitar 20-an dan ternyata benar, dan…. tampangnya tidak terlihat seperti orang Chinese. Dia agak terlihat seperti cewek Korea atau Jepang.

Dari situlah bercakap-cakaplah saya dengannya (dengan bahasa Inggris tentunya). Dan saya jadi bersyukur karena bahasa Inggris saya yang cukup lancar dan bahkan Norah bilang pun tidak berlogat Indonesia. (terserah mau dibilang British, American, atau apa lah, tapi bukan Singapore atau Afro-american lho ya…) Kenapa saya mesti bersyukur? Karena dengan kemampuan bahasa Inggris saya yang… ya, “cukup” lah, tidak bisa dikatakan perfect, saya jadi dengan mudah berkomunikasi dengan Norah, dan Norah sekarang jadi cukup dekat dengan saya dibanding penghuni kost yang lainnya. (beuh… berasa paling jago bahasa Inggris lo?) Tapi sepanjang pengamatan dan perbandingan saya dengan teman-teman kost saya yang orang Indonesia itu, ya, sepertinya begitu. (ingat, ini hanya pada level conversation, bukan grammar maupun listening, dan saya cuma menang di accent aja, karena sumpah, dengan accent saya ini saya jadi terlihat pro dan super cas cis cus di mata orang lain, bahkan beberapa teman-teman saya mengira kalo accent saya dibuat-buat sok British seperti Cinta Laura, padahal… sumpah lagi, ini asli, memang lidah saya dari sono nya begini, tanpa harus stay abroad terlebih dahulu. O ya, kalo masalah vocabulary, kagak tau dah).


Jadi, Norah ke Indonesia untuk belajar bahasa Indonesia, les bahasa lah, di BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing) yang ada di Fakultas Ilmu Budaya UI. Saya sering berkunjung ke kamarnya untuk mengajarinya bahasa Indonesia, ataupun sekedar ngobrol, tadi malam ipun saya ikutan “belajar bareng” dengannya plus teman-temannya yang anak BIPA juga, yang kebetulan…. ASIA TIMUR semua!!! Ada Japanese dan juga Korean di sana. Okay, yang ini saya ceritakan secara detail nanti. Satu hal yang menarik untuk berteman dengan Norah (selain mempraktikkan bahasa Inggris, menambah teman asing, dan menambah pengalaman mengajar) adalah saya jadi lebih memahami hidup dan bisa dikatakan mendapat pelajaran yang cukup berharga darinya. Tiga hari dia tinggal di kost an saya, kita sudah jalan bareng (dia yang meminta saya untuk menemaninya ke Gramedia dan ke Mall, mau cari Alfalink en ke supermarket tuch anak). Dan saat itu, kita berdiskusi tentang banyak hal, termasuk hal-hal yang cukup kompleks, ada unsur curhatnya juga, bahkan diskusi tentang AGAMA! Tapi semuanya berjalan sangat santai, Norah anaknya cukup easy going dan friendly, dan alhamdulillah.. karena conversation Inggris saya lumayan lancar, semuanya jadi berjalan dengan mudah.


Suatu ketika, pada suatu malam, saya berkunjung ke kamar Norah, awalnya kita hanya membahas mengenai interpreter yang ia cari untuk perusahaan temannya. Tapi kemudian, sampai ke hal-hal lain, seperti alasan mengapa ia memilih nama Inggris “Norah” untuknya (nama aslinya Yang, lupa saya nama lengkap Chinese nya). Saat itu ia mengatakan pada saya (dengan bahasa Inggris) bahwa ia memilih nama Norah karena selain ia mengagumi Norah Jones (penyanyi jazz international yang ngetop banget lewat lagu “Don’t Know Why” itu), hal lain adalah karena ia melihat dalam buku nama atau apa lah itu, saya lupa, bahwa Norah itu artinya sebuah harapan (menurut bible). Kemudian ia melanjutkan dengan serius dan penuh penghayatan, “Hope / harapan itu sangat penting untuk dimiliki seorang manusia, dengan harapan, kita jadi tetap bisa bermimpi, dan mimpi itu penting, dengan harapan kita jadi mempunyai tekad untuk lebih baik lagi, dengan harapan, kita jadi memiliki target yang ingin kita capai dan berusaha untuk memenuhi target itu.” Begitulah kira-kira perkataan Norah. Entah mengapa saya jadi merasa sendu dan hampir menitikkan air mata, sangat mengharukan dan penuh makna perkataan seorang teman saya yang usianya lebih tua empat tahun dari saya itu, dan yang baru saya kenal beberapa hari itu, dan dia…. WNA!


Some dreams, live on in time forever

Those dreams, you want with all your heart

And I’ll do whatever it takes

Follow through to the promise I made

Put it all on the line

What I hope for at last would be mine

If I could reach…

Higher

Just for one moment touch the sky

For that one moment in my life

I’m gonna be… STRONGER

...


Yang kedua, “Bring it all Back” dari S Club 7 (sekarang masih ada apa sudah bubar ya?)

Don’t stop, never give up

Hold your head high and reach the top

Let the world see what you have got

Bring it all back to you

Yang ketiga, “I hope you dance” dari Lee Ann Womack (penyanyi country yang cukup tenar dan bertahan lama di US gitu)

jujur, saya sangat suka dengan lagu ini karena penuh kiasan dan terdengar begitu puitis dan “mengena”

sedikit kalimat saja…

And when one door closed is hope one more open

Promise me that you will have a fighting chance

If you have a choice to sit it out or dance

I hope you dance

Makna lagu ini kurang lebih ialah, apabila ada satu kesempatan yang tertutup, yakinlah bahwa masih ada kesempatan lain yang terbuka. Jadi, jangan pernah kehilangan semangat untuk berjuang. Dan apabila ada jalan dan pilihan apakah kita mesti berusaha atau diam saja menunggu, kita harus memilih untuk berusaha.

O ya, there is one more song from Arashi, J-pop boyband, judulnya “Believe”

ini potongan arti liriknya dalam bahasa Inggris… (aslinya pake bahasa Jepang, bo)

That's right, we're always waiting
No matter how long it takes, we wait
Because the dream that we're always hold in our hearts
On the road that goes on forever
Will surely come true
We'll go on, crying, laughing


Kurang lebih maknanya adalah, kita sebagai manusia akan selalu menunggu “mimpi-mimpi” kita untuk terwujud. Karena “mimpi-mimpi” yang selalu berada di hati kita yang meskipun nampaknya masih sangat jauh, pasti akan terlaksana. Kita akan menjalaninya dan meraihnya dengan tangis dan tawa. Semuanya demi menjaga mimpi yang tersimpan dalam hati kita.

ngomong-ngomong, semua lagu ini (kecuali lagu Arashi yang terakhir, secara lagu Japan men!) saya tulis dengan mengandalkan ingatan saya, tanpa membuka lirik lagu aslinya di internet, tapi insya Allah dan saya cukup yakin bahwa >90% akurat (berhubung ingatan dan hafalan saya di lagu, khusunya lagu international, cukup dahsyat). Oh no, international? Bahkan, beberapa hari bertemu dengan saya pun, Norah berkata, “You are intenational girl”. Wekzzz… maksudnya apa? Tapi mungkin dia tidak salah. Nyambung lagi nih, masa kemaren waktu lagi belajar sama Norah, kan ada temennya orang Jepang yang namanya Naoko. Naoko ini bahasa Indonesia nya sudah cukup lancar (secara dua tahun sudah belajar bahasa Indonesia di Jepang, meskipun frekuensinya cuma sekali seminggu). Nah, jadi ceritanya saya waktu mengajari Norah suatu kata dalam bahasa Indonesia, saya mengeja dengan alphabet Inggris. Kemudian, Naoko berkata pada saya, “Kamu ini orang Indonesia, kok pake bahasa itu? Bahasa Indonesia dong…” (kurang lebih begitu lah). Well, saya jadi “terketuk” untuk lebih menggunakan bahasa Indonesia (termasuk dalam menulis blog ini). Tapi, kalau bahasa Inggris saya diabaikan, nanti saya lupa dong? Duh, ada yang bisa memberi solusi?


Another lesson…

Di malam yang sama ketika Norah bercerita pada saya mengenai arti namanya, saya bertanya padanya mengenai apa musik favoritnya. Kemudian ia memperlihatkan (tepatnya memperdengarkan) beberapa koleksi lagu-lagu di playlist I-Tunesnya. Sampai ketika ia menunjukkan lagu “I’m with You” dari Avril Lavigne. Tau kan liriknya? Ini deh…

I’m standing on the bridge

I’m waiting in the dark

I thought that you’d be here by now

There’s nothing bout the rain

No footsteps on the ground

I am listening but there’s no sound

…


Kemudian, Norah mengatakan bahwa ia sangat menyukai lagu itu, karena ia pernah merasakan situasi yang sama seperti lagu itu. Di negeri asalnya, ia pernah berdiri sendirian di atas jembatan, dan banyak orang berseliweran melewatinya, tetapi tidak satupun yang ia kenal. Tidak menyangka, bahwa orang secantik dia, pernah mengalami situasi seperti itu. Dan yang menarik adalah, untuk ukuran perkenalan beberapa hari, Norah sudah bisa curhat. Kalo orang seperti saya, pasti Anda sudah bisa menebak bahwa saya kerap merasa kesepian, meskipun tidak sampai pergi ke atas jembatan.

Begitulah, dalam beberapa hari saya dan Norah sudah akrab, dan dia memberikan banyak pelajaran berharga bagi saya. Meskipun dia mungkin hanya berada di kost an saya untuk dua atau tiga bulan saja. Hikz… Tapi ada hikmahnya juga saya mengambil Semester Pendek tahun ini. Jadi saya tidak liburan tiga bulan sehingga bisa tetap berada di kost an, dan bisa lebih dekat dengan Norah. Hmm… mungkin nanti saya akan dikenalkan dengan teman-temannya yang Japan atau Korean, dan mudah-mudahan… hi hi hi… Ada yang ganteng :D (membayangkan Kyuh Yun Super Junior atau Jin Akanishi nya Kat Tun). LEBAY… Sepertinya kisahku dengan orang-orang Asia Timur terus saja berlanjut tahun ini dan tidak tahu, apakah akan berganti dengan bangsa lainnya?



May 22, 2009

my college style


I dunno whether I belong to "fashionable" category or not. And errr.... actually I dunno what's the "real" definition about fashion or why are there some people who justify themselves as fashion. I mean I ever read that one who said "I don't do fashion, but "I'm" fashion. Whatever... They may make any statement based on their belief and opinion. But if you guys want to know what I wear to campus, than this is me. You may make any comment and justification up to your head, and I dunno whether what I wear should be considered as lovable or not. But the thing that I know is that, I have different style than other girls in my college. And I don't care what would they say about me and my style, or when everyone (okay, not everyone, but lots of people) is staring at me when I am passing them.

May 20, 2009

Malapetaka di Ujung Stick Golf

Apakah seorang pimpinan KPK dilarang untuk bermain golf? Mungkin akan sangat klise jika Anda membaca pernyataan "Pimpinan KPK dilarang bermain golf dengan pihak yang secara langsung atau tidak langsung berpotensi menimbulkan benturan kepentingan sekecil apapun." Memangnya siapa yang membuat pernyataan semacam itu? Bukan siapa, tetapi pernyataan ini tercantum dalam Kode Etik pimpinan KPK Nomor KEP-06/P.KPK/02/2004.

Karena seorang Antasari Azhar bermain golf dan tidak disertai dengan orang KPK, maka ia terancam terkena pelanggaran kode etik Pimpinan KPK. Bahkan, Emerson Yuntho dari Indonesia Corruption Watch (ICW) mengatakan, dari catatan ICW ada empat pelanggaran kode etik yang dilakukan Antasari yang di antaranya, bermain golf dengan pihak lain. Dikatakan bahwa pimpinan KPK boleh bermain golf, tetapi sendiri atau sesama orang KPK.

Jadi, mungkin yang berada di benak sebagian besar dari kita adalah jika yang dimainkan oleh Antasari Azhar adalah tenis, futsal, polo, berkuda dan sebagainya dan ia bersama dengan rekannya (atau siapa pun itu) yang bukan orang KPK, maka ia tidak mungkin akan tersandung pelanggaran kode etik. Apakah praduga semacam itu dapat dibenarkan? Dalam pelanggaran yang tercantum dalam Kode Etik Pimpinan KPK dapat diinterpretasikan suatu kalimat "Bermain golf dengan pihak lain yang menimbulkan benturan kepentingan". Benturan apakah yang dimaksud? Mungkinkah dalam dunia politik Indonesia maupun internasional pernah terdapat kasus semacam suap atau yang sejenisnya yang diawali dengan pertemuan di lapangan golf? Seolah-olah, golf menjadi suatu permainan pembawa keramat yang mempertemukan Antasari dengan sesosok gadis caddy bernama Rhani Juliani yang menjadi salah satu praduga alasan terbunuhnya Nasrudin Zukarnaen, Direktur Utama PT Putra Rajawali Banjaran. Mungkin hal ini menjadi salah satu bukti bahwa golf merupakan suatu permainan keramat bagi para petinggi di negeri ini. Dengan adanya kasus ini, sebaiknya para petinggi lainnya berhati-hati jika bermain golf atau memikirkan alternatif orahraga lainnya. Seandainya saja olahraga kegemaran Antasari bukanlah golf, tenis barangkali, mungkin saja nasibnya akan sedikit berubah. Lalu, dapatkah kita mengatakan suatu perumpamaan bahwa suatu malapetaka dapat bermula dari ujung stick golf?

BIBLIOGRAFI

Harian Kompas, "KPK Selidiki Antasari", Jumat, 15 Mei 2009, halaman 2